
Ketika manusia memasuki usia 20 tahun, keinginan untuk meneruskan pendidikan yang tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak menjadi impian. Saat mencapai usia 25-30 tahunan, ada kerinduan untuk memiliki pasangan hidup yang dengannya kita akan merenda hari-hari bahagia, mewujudkan keluarga sakinah mawaddah dan rahmah.
Setelah melangkah ke tahap pernikahan dengan seseorang yang kita pilih danatau memilih kita, kita masih merasakan manisnya berumahtangga. Lambat laun, seiring kita menjalaninya mulai ada riak-riak kecil ujian kesabaran dan ombak-ombak cobaan kehidupan yang datang silih berganti.
Kehidupan berumahtangga yang kita baca teorinya di buku-buku pranikah terkadang tak seindah yang kita alami sendiri. Ada saja benturan-benturan ringan dari perbedaan sifat, tingkahlaku dan karakter antara kita dan pasangan kita. Yang jika tidak ditanggapi dengan kepala dingin, dapat menimbulkan kekesalan demi kekesalan yang menggores di hati.
Kehidupan berumahtangga yang kita baca teorinya di buku-buku pranikah terkadang tak seindah yang kita alami sendiri. Ada saja benturan-benturan ringan dari perbedaan sifat, tingkahlaku dan karakter antara kita dan pasangan kita. Yang jika tidak ditanggapi dengan kepala dingin, dapat menimbulkan kekesalan demi kekesalan yang menggores di hati.
Namun, berumah tangga tidak melulu diisi dengan perbedaan, ada kesamaan kita dalam hal visi keluarga, kesamaan dalam hal hobi dan kesukaan, kesamaan dalam kebutuhan berkasih sayang, dan sebagainya yang jika kita renungkan pasti lebih banyak kesamaan dari pada perbedaan kita dan pasangan kita.
Saat ini yang kita butuhkan adalah keikhlasan, rasa syukur dan kesabaran dalam mengarungi samudera dunia berumahtangga.
Bisakah kita melakukannya?
Jawabannya pasti bisa, dengan kemauan, tekad dan usaha maksimal disertai dengan tawakkal kepada Sang Pemilik hati-hati manusia, insya Allah.
